Kamis, 24 Maret 2016

Jin Mukmin Juga Masuk Surga

Assalamualaikum Sahabat Nisrina
Jin Mukmin Juga Masuk Surga

Jin Mukmin Masuk Surga

Oleh
Ustadz Abu Minhal, Lc
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا ۖ فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَىٰ قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ ﴿٢٩﴾ قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَىٰ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ ﴿٣٠﴾ يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآمِنُوا بِهِ يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ ﴿٣١﴾ وَمَنْ لَا يُجِبْ دَاعِيَ اللَّهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِي الْأَرْضِ وَلَيْسَ لَهُ مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءُ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan al-Qur`ân, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata: “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (al-Qur`ân) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allâh dan berimanlah kepadanya, niscaya Allâh akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih. Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allâh maka dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allâh di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata”. [al-Ahqâf/46 :29-32].
PENJELASAN AYAT
Dalam ayat-ayat ini, Allâh Azza wa Jalla mengabarkan bahwa Dia Azza wa Jalla mengarahkan (menghadapkan) sejumlah jin yang berjumlah kurang dari sepuluh. Jin-jin itu mendengarkan bacaan al-Qur`ân yang sedang dibaca oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Masing-masing dari jin itu saling meminta yang lainnya untuk menyimak qirâ`ah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu dengan baik. Usai menyimak bacaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , mereka beranjak pulang untuk memperingatkan kaum mereka. Untuk menyampaikan kepada kaum mereka, bahwa mereka baru saja mendengarkan satu kitab suci yang diturunkan setelah Musa Alaihissallam, yang memberikan petunjuk menuju al-haqq dan menuju jalan yang lurus.
Dalam dakwahnya itu, mereka berkata: أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ {terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allâh}, yaitu Rasûlullâh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam وَآمِنُوا بِهِ (dan berimanlah kepadanya) agar kalian memperoleh maghfirah (ampunan) dan selamat dari siksa yang pedih. Barangsiapa tidak menyambut seruan dakwah ini, ia tidak akan bisa mengalahkan Allâh Azza wa Jalla . Allâh Azza wa Jalla akan menyiksanya atas penolakannya terhadap dakwah tersebut. Tidak ada yang akan bisa menyelamatkan dirinya dari siksa Allâh Azza wa Jalla . Sungguhnya ia berada dalam kesesatan yang nyata.
Dalam ayat ini terkandung satu petunjuk dalil, bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus juga kepada bangsa jin. Dalil yang menunjukkan hal tersebut, ialah ayat yang terdapat dalam Surat ar-Rahmân yang berisi khithâb kepada jin dan manusia, dan firman Allâh Azza wa Jalla di dalam surat tersebut :
فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan ?
Yang berulang 31 kali.
Ada dua persoalan berkait dengan ayat-ayat ini.
Pertama. Tidak ada rasul dari kalangan jin, tetapi yang ada adalah nudzur (para pemberi peringatan). Tidak ada dalil yang menunjukkan keberadaan rasul dari kalangan jin.
Sedangkan firman Allâh Azza wa Jalla dalam surat al-An’âm dan surat al-Ar’âf yaitu firman-Nya :
يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِي
Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayatKu [al-An’âm/6:130. Lihat juga QS al-A’râf/7:35].
Kata ﯞ (rusulun) pada ayat tersebut tidak menunjukkan keberadaan rasul dari kalangan jin, akan tetapi rasul-rasul yang diutus untuk dua golongan sekaligus, yaitu manusia dan jin.
Pada ayat-ayat di atas pun termuat isyarat terhadap perkara tersebut, karena jin mengatakan :
إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَىٰ
Sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (al-Qur`ân) yang telah diturunkan sesudah Mûsâ.
Jin-jin itu tidak menyebutkan kitab yang diturunkan kepada salah satu dari kalangan mereka, dan juga seorang rasul khusus yang diutus kepada mereka. Mereka hanya menyebutkan Mûsâ Alaihissallam dan kitabnya (Taurat). Dan setelah kitab Musa, diturunkan kitab Zabur dan Injil. Jin-jin itu pun tidak menyebut dua kitab tersebut, padahal turun setelah Taurat, karena keduanya menyempurnakan kitab Taurat dan memuat sejumlah hukum-hukum Taurat.
Kedua. Apakah pahala yang didapatkan jin atas keimanannya adalah maghfirah dan keselamatan dari siksa yang pedih saja (seperti diungkap ayat al-Ahqâf/46 : 31 di atas), ataukah selain itu mereka juga masuk surga ?
Sebagian Ulama berpendapat, balasan yang diperoleh jin adalah ampunan dosa-dosa mereka dan perlindungan dari siksa yang pedih saja, sebagaimana ditunjukkan oleh tekstual ayat-ayat di atas.
Sementara Jumhur Ulama berpendapat –dan pendapat mereka itulah yang benar- bahwa balasan jin-jin yang beriman adalah selamat dari siksa dan masuk surga. Hal ini berdasarkan firman Allâh Azza wa Jalla:
وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ
Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Rabb-nya ada dua surga [ar-Rahmân/55:46].
Ayat ini mencakup obyek jin dan manusia, sebab khithâb (arah pembicaraan ayat ini) tertuju kepada dua golongan, manusia dan jin dalam firman Allâh Azza wa Jalla :
فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan ?
Tidak ada kontradiksi ayat-ayat di surat al-Ahqâf dan ayat yang terdapat dalam Surat ar-Rahmân. Sebab, yang terdapat dalam surat al-Ahqâf itu menyebutkan sebagian balasan yang mereka peroleh. Sementara kandungan yang terdapat dalam Surat ar-Rahmân menunjukkan balasan baik yang lain bagi mereka, yaitu masuk surga.
Imam Ibnu Katsîr t menguatkan pendapat kedua, bahwa jin Mukmin akan mendapat balasan masuk Surga melalui beberapa sisi pendalilan. Beliau t berkata –secara ringkas- , “Yang benar, jin-jin Mukmin, seperti kaum Mukminin, akan masuk surga sebagaimana disampaikan oleh sejumlah Ulama Salaf. Di antara mereka berdalil dengan firman Allâh berikut :
لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌّ
Tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni syurga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin. [ar-Rahmân/55:56]
Namun dalam istidlâl (berdalil) dengan ayat ini fîhi nazhar (masih menyisakan tanda tanya). Yang lebih baik dari istidlâl tersebut, adalah istidlâl dengan firman Allâh Azza wa Jalla :
وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ
Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Rabb-nya ada dua surga [ar-Rahmân/55:46]
Melalui ayat ini, Allâh Azza wa Jalla menyebutkan anugerah yang diberikan-Nya kepada bangsa manusia dan jin, dengan menjadikan surga sebagai balasan bagi mereka yang berbuat baik. Tidak mungkin Allâh Azza wa Jalla menyebutkan nikmat bagi mereka yang tidak mungkin mereka peroleh. Begitu pula, Allâh Azza wa Jalla membalas jin kafir dengan neraka – ini merupakan satu bentuk keadilan- , maka dibalasnya jin-jin Mukmin dengan balasan surga – yang merupakan petunjuk limpahan anugerah dari Allâh Azza wa Jalla – pantaslah Allâh Azza wa Jalla melakukannya.
Dalil lain yang menunjukkan jin mukmin akan masuk surga, ialah keumuman firman Allâh Azza wa Jalla.
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا
“Sesungguhnya yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal [al-Kahfi/18:107], juga ayat-ayat lainnya.
Apa yang diungkapkan Ulama bahwa balasan keimanan jin adalah digugurkannya dosa-dosa mereka dan dihindarkan dari siksa yang pedih. Hal ini secara otomatis bermakna mereka masuk surga. Sebab, di akhirat, tidak ada kecuali surga dan neraka saja. Siapa saja yang dilindungi dari neraka, berarti ia masuk surga, itu pasti. Tidak ada nash yang tegas ataupun zhahir dari Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan jin yang Mukmin tidak masuk surga, meskipun telah diselamatkan dari neraka. Seandanya ada dalil yang shahîh, pastilah kami akan berpendapat dengan mengikutinya. Wallâhu a’lam.
(Visited 3 times, 1 visits today)

Comments





Semoga bermanfaat,
Baca Artikel menarik lainnya di -> http://nisrina.co.id/blog/
Nisrina Peduli Wanita!

Delapan Pintu Surga dan Golongan Penghuni Surga

Assalamualaikum Sahabat Nisrina
Delapan Pintu Surga dan Golongan Penghuni Surga

Golongan Penghuni Surga

Surga merupakan tempat terindah yang diinginkan setiap makhluk Allah SWT. Di dalamnya terdapat semua keindahan, kemegahan  dan kehidupan yang kekal abadi.
Dalam sebuah riwayat dijelaskan bahwa jumlah surga tidak hanya satu. Namun terdiri dari beberapa pintu, dimana setiap satu pintunya memiliki nama berbeda. Setiap nama ini akan dihuni golongan tertentu yang melaksanakan amalan tertentu juga selama di dunia.
Kenikmatan setiap satu nama surga tersebut sangat banyak dan tidak terbayangkan. Bagi mereka yang beriman, mendapatkan surga-surga ini bukanlah perkara sulit. Dengan amalan tertentu, golongan manusia ini bisa menghuni surga-surga tersebut.
1. Surga Firdaus
Surga Firdaus merupakan surga tertinggi di akhirat kelak. Dalam Alquran dan hadist, surga ini akan dihuni oleh tujuh golongan manusia salah satunya adalah golongan manusia yang selalu menjaga salatya. Seperti dalam QS. Al-Mukminun: 9-11 yang artinya:
“Sesungguhnya orang-orang yang memlihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Mukminun: 9-11).
Golongan kedua yang juga akan masuk ke surga ini adalah manusia yang meninggalkan kebatilan dan sumpah yang tidak penting atas nama Allah.
Ketiga adalah golongan manusia yang membayar zakatnya. Zakat merupakan kewajiban yang harus dikeluarkan mukmin untuk membersihkan harta.
Golongan keempat yang akan memasuki surga ini adalah orang-orang yang menjaga kemaluannya. Saat ini, tindakan seperti ini seperti menjadi hal yang susah untuk ditinggalkan. Keimanan manusia diuji dengan keras untuk bisa memasuki pintu surga ini.
Golongan kelima yang bisa masuk ke surga ini adalah manusia yang bisa menahan pendengarannya dan penglihatannya. Karena biasanya, semua dosa bersumber dari dua indera ini.
Selanjutnya, golongan yang akan memasuki surga Firdaus adalah orang-orang yang memelihara amanah dan menepati janji.
2. Surga ‘Adn
Di dalam Alquran, Allah SWT emenyebur surga ADN sebanyak 11 kali. Kata Adn  sendiri berasal dari kata Adana-ya’dinu-Adnan yang berati menetap atau tinggal.  Salah satu surat dalam Alquran yang menjelaskan tentang surga Adn adalah At-Taubah: 72, yang artinya adalah sebagai berikut:
“Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin lelaki dan perempuan (akan mendapat) surga di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan mendapat tempat-tempat yang bagus di surga ‘Adn.” (QS. At-Taubah: 72).
Para Penghuni Surga ‘Adn berdasarkan tafsir Al-Quran surah Thaha: 75-76 dan surah Ar-Ra’ad: 22-23:
1.       Golongan pertama yang menghuni pintu surga ini adalah mereka yang beriman dan selalu melaksanakan amal saleh.
2.       Selanjutnya mereka yang menepati selalu janjiorang
3.       Golongan selanjutnya yang akan dimasukkan ke dalam surga ini adalah mereka yang dihatinya selalu takut kepada Allah dan takut tertimpa hisab buruk.
4.       Orang yang selalu mencari keridhaan Allah SWT
5.       Golongan yang senang bersedekah dan memberikan sebagian hartanya ke jalan Allah.
6.       Oarang-orang yang senantiasa mencegah perbuatan keji dan munkar
7.       Orang-orang yang selalu mendirikan salat.
3. Surga Na’im
Nama surga selanjutnya adalah Surga Na’im. Surga ini diciptakan oleh Allah SWT dari perak putih. Na’im diperuntunkan bagi orang-orang yang benar-benar bertakwa dan beramal saleh. Banyak surat dalam Alquran menjelaskan tentang surga tersebut. Antara lain seperti berikut ini.
“Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa (disediakan) surga-surga yang penuh kenikmatan di sisi Tuhannya.” (Q.S. Al-Qalam [68]: 34)
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, bagi mereka surga-surga yang penuh kenikmatan” (Q.S. Luqman [31]: 8)
“Kekuasaan di hari itu ada pada Allah, Dia memberi keputusan di antara mereka. Maka orang-orang yang beriman dan beramal saleh adalah di dalam surga yang penuh kenikmatan.” (Q.S. Al-Hajj [22]: 56)
4. Surga Ma’wa
Surga berikutnya bernama Ma’wa. Tempat ini dicptakan dari zamrud hijau yang indah dan akan dihuni oleh golongan manusia seperti yang tertera dalam Alquran berikut ini.
“Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, maka bagi mereka surga-surga tempat kediaman, sebagai pahala terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S. As-Sajdah [32]: 19)
“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Maka sesungguhnya surga tempat tinggal(nya).” (Q.S. An-Naazi‘aat [79]: 40-41)
5. Surga Darussalam
Surga Darussalam merupakan surga yang diciptakan Allah dari Yukut merah. Surga ini diperuntukan untuk mereka yang sangat kuat iman serta islamnya. Seperti yang tertera dalam surat Al-An’aam [6]: 127 yang artinya.
“Bagi mereka (disediakan) darussalam (surga) pada sisi Tuhannya dan Dialah Pelindung mereka disebabkan amal-amal saleh yang selalu mereka kerjakan.” (Q.S. Al-An’aam [6]: 127)
6. Surga Darul Muqamah
Surga ini diciptakan Allah dari permata putih yang begitu indah. Golongan yang akan menjadi penghuninya adalah mereka yang melakukan banyak kebaikan. Seperti yang diungkapkan Allah dalam qalamnya surat Faathir [35]: 34-35 yang artinya:
“Dan mereka berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga) dari karunia-Nya; di dalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu.’” (Q.S. Faathir [35]: 34-35)
7. Surga Maqaamul Amin
Surga selanjutnya bernama Surga Maqaamul Amin yang diciptakan Allah dari emas. Surga ini diperuntukan bagi mereka yang benar-benar bertakwa kepada Allah Swt. Hal ini dijelaskan dalam firman Allah surat Ad-Dukhan [44]: 51 yang berarti:
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam tempat yang aman.” (Q.S. Ad-Dukhan [44]: 51)
8. Surga Khuldi
Allah SWT juga menciptakan Surga Khuldi yang diperuntukan bagi golongan yang taat menjalankan perintah Allah Swt. dan menjauhi segala larangan-Nya.  \Hal ini dijelaskan dalam Alquran surat Al-Furqan [25]: 15 yang artinya:
“Katakanlah, ‘Apa (azab) yang demikian itukah yang baik, atau surga yang kekal yang telah dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa? Dia menjadi balasan dan tempat kembali bagi mereka.’” (Q.S. Al-Furqan [25]: 15).
Lantas bagaimana jika anda termasuk golongan manusia yang bisa memasuki semua surga tersebut? Niscaya pada hari kiamat, setiap pintu surga ini akan memanggil-manggil meminta manusia yang baik untuk memasukinya.



Semoga bermanfaat,
Baca Artikel menarik lainnya di -> http://nisrina.co.id/blog/
Nisrina Peduli Wanita!

Delapan Pintu Surga

Assalamualaikum Sahabat Nisrina
Delapan Pintu Surga

 Pintu Surga

Ada delapan pintu surga. Ada empat pintu yang disebut dalam satu hadits. Sisanya dilihat dari hadits-hadits lainnya. Yaitu: (1) Pintu Shalat, (2) Pintu Sedekah, (3) Pintu Jihad, (4) Pintu Ar-Rayyan, (5) Pintu Haji, (6) Pintu Al-Ayman, (7) Pintu Al-Kazhimina Al-Ghaizha wa Al-Afina ‘an An-Naas. Pintu sisanya adalah Pintu Dzikir, Pintu Ridha, atau Pintu Ilmu.

Tidak Ada yang Semisal Surga

Allah Ta’ala berfirman,
فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Tak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (QS. As-Sajdah: 17)
Dalam hadits disebutkan,
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – « يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَعْدَدْتُ لِعِبَادِى الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ ، ذُخْرًا ، بَلْهَ مَا أُطْلِعْتُمْ عَلَيْهِ » . ثُمَّ قَرَأَ ( فَلاَ تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِىَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ )
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “AllahTa’ala berfirman: Aku sediakan bagi hamba-Ku yang shalih berbagai kenikmatan yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga dan tidak pernah terbetik dalam benak manusia. Kalau kalian mau, bacalah, ‘Tak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.’ (QS. As-Sajdah: 17)
Balasan ini diberikan bagi orang yang beramal sembunyi-sembunyi. Allah rahasiakan pula balasan baginya dan dinampakkan dengan senyatanya pada hari kiamat. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahberkata,
أَخْفَى قَوْمٌ عَمَلَهُمْ فَأَخْفَى اللهُ لَهُمْ مَا لَمْ تَرَ عَيْنٌ ، وَلَمْ يَخْطُرْ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ
“Suatu kaum ada yang menyembunyikan amalan mereka. Allah pun membalasnya dengan menyembunyikan balasan untuk mereka yang tak pernah mereka pandang sebelumnya dan tak pernah terbetik dalam benak.” (HR. Ibnu Abi Hatim, dinukil dari Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 145)

Delapan Pintu Surga yang Akan Dimasuki

Di surga ada delapan pintu surga. Salah satu pintu dinamakan Ar-Rayyan dan pintu ini khusus bagi orang yang berpuasa. Dalam hadits disebutkan,
عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ – رضى الله عنه – عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « فِى الْجَنَّةِ ثَمَانِيَةُ أَبْوَابٍ ، فِيهَا بَابٌ يُسَمَّى الرَّيَّانَ لاَ يَدْخُلُهُ إِلاَّ الصَّائِمُونَ »
Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Surga memiliki delapan buah pintu. Di antara pintu tersebut ada yang dinamakan pintu Ar Rayyan yang hanya dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa.” (HR. Bukhari no. 3257)
Pintu lainnya adalah pintu untuk orang-orang yang rajin mengerjakan shalat, pintu untuk yang rajin bersedekah, pintu untuk para mujahid.
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,
مَنْ أَنْفَقَ زَوْجَيْنِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ نُودِىَ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يَا عَبْدَ اللَّهِ ، هَذَا خَيْرٌ . فَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّلاَةِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الصَّلاَةِ ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجِهَادِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الْجِهَادِ ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصِّيَامِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الرَّيَّانِ ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّدَقَةِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الصَّدَقَةِ
“Barangsiapa yang berinfak dengan sepasang hartanya di jalan Allah maka ia akan dipanggil dari pintu-pintu surga, ‘Hai hamba Allah, inilah kebaikan.’ Maka orang yang termasuk golongan ahli shalat maka ia akan dipanggil dari pintu shalat. Orang yang termasuk golongan ahli jihad akan dipanggil dari pintu jihad. Orang yang termasuk golongan ahli puasa akan dipanggil dari pintu Ar-Rayyan. Dan orang yang termasuk golongan ahli sedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.”
فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ – رضى الله عنه – بِأَبِى أَنْتَ وَأُمِّى يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَا عَلَى مَنْ دُعِىَ مِنْ تِلْكَ الأَبْوَابِ مِنْ ضَرُورَةٍ ، فَهَلْ يُدْعَى أَحَدٌ مِنْ تِلْكَ الأَبْوَابِ كُلِّهَا قَالَ « نَعَمْ . وَأَرْجُو أَنْ تَكُونَ مِنْهُمْ »
Ketika mendengar hadits ini Abu Bakar pun bertanya, “Ayah dan ibuku sebagai penebus Anda wahai Rasulullah, kesulitan apa lagi yang perlu dikhawatirkan oleh orang yang dipanggil dari pintu-pintu itu. Mungkinkah ada orang yang dipanggil dari semua pintu tersebut?”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “Iya ada. Dan aku berharap kamu termasuk golongan mereka.” (HR. Bukhari no. 1897, 3666 dan Muslim no. 1027)
Al-Qadhi menukil ucapan Al-Harawi ketika menerangkan makna ‘sepasang hartanya’: Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ‘sepasang harta’ adalah dua ekor kuda, dua orang budak, atau dua ekor unta. Ibnu ‘Arafah menyatakan segala sesuatu yang memiliki pasangan disebut dengan zauj.
Sedangkan yang dimaksud dengan berinfak di jalan Allah dalam hadits ini mencakup berinfak untuk segala bentuk amal kebaikan. Ada juga ulama yang menafsirkan, yang dimaksud adalah khusus jihad saja. Namun memberlakukan secara umum seperti pendapat pertama itu lebih bagus. Demikian ucapan dari Al-Qadhi ‘Iyadh. (Syarh Shahih Muslim, 6: 106)
Sedangkan pintu kelima adalah pintu Al-Ayman. Dari Abu Hurairah, dalam hadits tentang syafaat Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam dikatakan,
يَا مُحَمَّدُ أَدْخِلِ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِكَ مَنْ لاَ حِسَابَ عَلَيْهِ مِنَ الْبَابِ الأَيْمَنِ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ وَهُمْ شُرَكَاءُ النَّاسِ فِيمَا سِوَى ذَلِكَ مِنَ الأَبْوَابِ
Wahai Muhammad, suruhlah umatmu (yaitu) orang-orang yang tidak dihisab untuk masuk ke dalam surga melalui pintu Al-Ayman yang merupakan di antara pintu-pintu surga. Sedangkan pintu-pintu yang lain adalah pintu surga bagi semua orang.” (HR. Bukhari no. 3340, 3361, 4712 dan Muslim no. 194)
Nama pintu keenam adalah Al-Kazhimina Al-Ghaizha wa Al-Afina ‘an An-Naas (mudah menahan amarah dan memaafkan orang lain) terdapat dalam hadits dari Rawh bin ‘Ubadah, dari Asy’ats, dari Al-Hasan Al-Bashri secara mursal,
إِنَّ للهِ بَاباً فِي الجَنَّةِ لاَ يَدْخُلُهُ إِلاَّ مَنْ عَفَا عَنْ مَظْلَمَةٍ
Sesungguhnya Allah memiliki sebuah pintu di surga, tidaklah yang masuk melaluinya kecuali orang-orang yang memaafkan kezaliman.” (Diriwayatkan oleh Ahmad. Lihat Fath Al-Bari, 7: 28).
Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Al-Qadhi berkata, pintu-pintu surga lainnya disebutkan dalam hadits lain yaitu pintu taubat, pintu Al-Kazhimina Al-Ghaizha wa Al-Afina ‘an An-Naas, Pintu Ridha. Inilah jadinya ada tujuh pintu yang ada dalam berbagai hadits. Sedangkan 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab akan masuk melalui pintu Al-Ayman. Itulah pintu kedelapan.” (Syarh Shahih Muslim, 7: 106-107)
Ibnu Hajar rahimahullah menyatakan, “Dalam hadits disebutkan ada empat pintu surga. Di awal-awal bab jihad sudah diterangkan pula bahwa pintu surga itu ada delapan. Rukun Islam yang tersisa adalah haji, tentu ada pintu khusus untuk orang yang berhaji. Itulah pintu kelima. Adapun tiga pintu lainnya, ada di situ pintu Al-Kazhimina Al-Ghaizha wa Al-Afina ‘an An-Naas terdapat dalam riwayat Imam Ahmad, dari Rawh bin ‘Ubadah dari Asy’ats, dari Al-Hasan Al-Bashri secara mursal, “Sesungguhnya Allah memiliki sebuah pintu di surga, tidaklah yang masuk melaluinya kecuali orang-orang yang memaafkan kezaliman.”
Ada juga pintu Al-Ayman (pintu ketujuh), yaitu pintu orang yang bertawakkal pada Allah yang masuk dalam surga tanpa hisab dan tanpa siksa. Adapun pintu kedelapan adalah Pintu Dzikir sebagaimana yang diisyaratkan dalam riwayat Tirmidzi. Bisa jadi pula adalah Pintu Ilmu. Wallahu a’lam.” (Fath Al-Bari, 7: 28)

Abu Bakar Dipanggil dari Delapan Pintu Surga

Abu Bakar adalah orang yang memiliki berbagai bentuk amal shalih dan ketaatan. Hal itu terbukti sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ صَائِمًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ أَنَا قَالَ فَمَنْ تَبِعَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ جَنَازَةً قَالَ أَبُو بَكْرٍ أَنَا قَالَ فَمَنْ أَطْعَمَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ مِسْكِينًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ أَنَا قَالَ فَمَنْ عَادَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ مَرِيضًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ أَنَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا اجْتَمَعْنَ فِي امْرِئٍ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya (kepada para sahabat), “Siapakah di antara kalian yang pada hari ini berpuasa?” Abu Bakar berkata, “Saya.”
Beliau bertanya lagi, “Siapakah di antara kalian yang hari ini sudah mengiringi jenazah?” Maka Abu Bakar berkata, “Saya.”
Beliau kembali bertanya, “Siapakah di antara kalian yang hari ini memberi makan orang miskin?” Maka Abu Bakar mengatakan, “Saya.”
Lalu beliau bertanya lagi, “Siapakah di antara kalian yang hari ini sudah mengunjungi orang sakit.” Abu Bakar kembali mengatakan, “Saya.”
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Tidaklah ciri-ciri itu terkumpul pada diri seseorang melainkan dia pasti akan masuk surga.” (HR. Muslim no. 1028).
Abu Bakar Al-Muzani berkomentar tentang sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu’anhu,
مَا فَاقَ أَبُوْ بَكْرٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – أَصْحَابَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بِصَوْمٍ وَلاَ صَلاَةٍ ، وَلَكِنْ بِشَيْءٍ كَانَ فِي قَلْبِهِ ، قَالَ : الَّذِي كَانَ فِي قَلْبِهِ الحُبُّ للهِ – عَزَّ وَجَلَّ – ، وَالنَّصِيْحَةُ فِي خَلْقِهِ
“Tidaklah Abu Bakar itu melampaui para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (semata-mata) karena (banyaknya) mengerjakan puasa atau shalat, akan tetapi karena iman yang bersemayam di dalam hatinya.”
Mengomentari ucapan Al-Muzani tersebut, Ibnu ‘Aliyah mengatakan, “Sesuatu yang bersemayam di dalam hatinya adalah rasa cinta kepada Allah ‘azza wa jalla dan sikap nasihat (ingin terus memberi kebaikan) terhadap (sesama).” (Jami’ Al-’Ulum wa Al-Hikam oleh Ibnu Rajab, 1: 225).

Semoga bermanfaat, semoga kita dimudahkan untuk memasuki pintu-pintu surga yang ada. Wallahu waliyyut taufiq.

Semoga bermanfaat,
Baca Artikel menarik lainnya di -> http://nisrina.co.id/blog/
Nisrina Peduli Wanita!

Bagaimana Penciptaan Surga dan Neraka

Assalamualaikum Sahabat Nisrina
Bagaimana Penciptaan Surga dan Neraka

Penciptaan surga dan neraka

Surga atau الجنة dan neraka atau النار adalah termasuk makhluk yang awal diciptakan. Tentang kisah Penciptaan Surga Dan Neraka Menurut Al Quran, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Ketika Allah menciptakan surga dan neraka, Dia mengutus Jibril untuk melihat ke surga, Allah berfirman : “Lihatlah ke syurga dan lihatlah apa saja yang Aku telah sediakan untuk para calon penghuninya”
“Maka Jibril pun mendatangi surga, kemudian melihat ke surga dan kepada apa yang Allah telah sediakan untuk para calon penghuninya.”
“Kemudian Jibril kembali kepada Allah dan berkata : “Demi keperkasaan-Mu, tidak ada seorang pun yang mendengar tentang syurga kecuali dia pasti ingin memasukinya.”
“Lalu Allah memerintahkan agar syurga dikelilingi oleh hal-hal yang dibenci, kemudian Allah berfirman kepada Jibril : : ”Kembalilah ke syurga dan lihatlah serta lihat pula apa yang Aku telah sediakan bagi para calon penghuninya”
“Maka Jibril pun kembali ke syurga, ketika itu syurga telah dikelilingi oleh perkara-perkara yang tidak disukai. Kemudian dia kembali kepada Alloh dan berkata : “Demi keperkasaan Mu, sungguh aku takut kalau tidak akan ada seorang pun yang mau memasukinya.”.
Allah berfirman : “Pergilah ke neraka, lihatlah ke neraka dan kepada apa yang Aku telah persiapkan untuk para calon penghuninya”
“Maka dilihatnya neraka, sebagiannya menghantam sebagian yang lain. Lalu Jibril kembali dengan berita tersebut, dan berkata : ”Demi keperkasaan-Mu, tidaklah ada seorang pun yang mendengar tentang neraka kemudian ia berminat memasukinya.”
“Kemudian Allah memerintahkan agar neraka dikelilingi oleh hal-hal yang diingini oleh hawa nafsu, kemudian Alloh berfir-man : “Kembalilah ke neraka !”
“Jibril pun kembali ke neraka, lalu Jibril berkata : “Demi keper-kasaan-Mu, aku khawatir tidak akan ada yang selamat dari neraka, kecuali ia pasti memasukinya.”
(HR. Ahmad, Abu Dawud dan At-Tirmidzi )
Hadits ini memberikan pemahaman kepada kita bahwa syurga dan neraka sekarang telah tercipta, dan di syurga inilah Nabi Adam ‘alaihis-salaam dan Hawa ‘alaihas-salaam tinggal sebelum diturunkan ke bumi untuk menjadi Khalifah di muka bumi.
Suasana syurga dan kenikmatannya adalah perkara yang belum pernah dilihat oleh mata dan tidak dapat dibandingkan dengan kenikmatan duniawi, dan merupakan suatu penawaran yang amat menggiurkan bagi siapa pun yang mendengarkannya. Tanah syurga adalah wewangian misik dan ja’faron, kerikilnya adalah batu dan permata, di bawah mereka mengalir empat ma-cam sungai, yaitu sungai madu yang murni, sungai susu yang nikmat, sungai arak yang tidak memabukkan dan sungai air se-gar yang murni. Juga terdapat banyak mata air yang penuh kenikmatan. Pohon-pohonannya berbatang emas dan mampu menaungi perjalanan 100 tahun. Buah-buahannya sangat banyak namun ukuran dan rasanya sangat lezat. Kemah-kemahnya terbuat dari mutiara yang berongga. Semilir anginnya menambah wangi dan gagah para penghuninya. Disediakan pula bidadari-bidadari yang wangi dan
 cantik rupawan dan pelayan-pelayan yang laksana mutiara Tidak ada lagi orang yang kencing, berak dan meludah, para penghuninya melakukan buang air melalui keringatnya yang berbau wangi. Namun syurga yang demikian indahnya dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai oleh hawa nafsu, seperti keharusan beriman dan beramal sholih, keharusan sholat lima kali setiap hari, kewajiban puasa setiap bulan Ramadhan, kewajiban berzakat, berda’wah, berhaji, berjihad, beramar ma’ruf dan nahi munkar, keharusan hanya makan, minum dan berpakaian yang halal, menjauhi zina, minuman keras, judi dan segala perka ra yang disenangi oleh hawa nafsu. Semua itu adalah perkara yang berat bagi makhluk yang memiliki hawa nafsu, seperti ma- nusia dan jin. Maka wajar saja bila kebanyakan orang enggan un tuk berusaha menjadi ahli syurga karena persyaratan masuk syurga yang begitu berat.



Semoga bermanfaat,
Baca Artikel menarik lainnya di -> http://nisrina.co.id/blog/
Nisrina Peduli Wanita!